a.       Pengertian PBL
Problem Based Learning merupakan suatu model pengajaran dengan pendekatan pembelajaran siswa pada masalah autentik. Masalah autentik dapat diartikan sebagai suatu masalah yang sering ditemukan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan PBL siswa dilatih menyusun sendiri pengetahuannya, mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, mandiri serta meningkatkan kepercayaan diri. Selain itu, dengan pemberian masalah autentik, siswa dapat membentuk makna dari bahan pelajaran melalui proses belajar dan menyimpannya dalam ingatan sehingga sewaktu-waktu dapat digunakan lagi (Nurhadi dalam Rusmiyati, 2007: 12).
Problem Based Learning dikenal dengan nama lain seperti pembelajaran proyek (Proyect-based teaching), pendidikan berdasarkan pengalaman (Experience-based education), pembelajaran autentik (Authentic Learning), dan pembelajaran berakar pada kehidupan nyata (Anchored Instruction).
Dalam pengajaran berdasarkan masalah guru berperan sebagai panyaji, mengadakan dialog, membantu dan memberikan fasilitas penyelidikan. Selain itu, guru juga memberikan dorongan dan dukungan yang dapat meningkatkan pertumbuhan intelektual siswa. Hal yang perlu mendapat perhatian dalam pengajaran berdasarkan masalah adalah pemberian masalah kepada siswa yang berfungsi sebagai motivasi untuk melakukan proses penyelidikan. Di sini guru mengajukan masalah, membimbing dan memberikan petunjuk dalam memecahkan masalah.
b.      Ciri-ciri PBL
Pengajaran berdasarkan masalah memiliki karakteristik sebagai berikut:
1)      Pengajuan pertanyaan atau masalah
Pengajaran berdasarkan masalah diawali dengan guru mengajukan pertanyaan dan masalah yang secara sosial dianggap penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa.
2)      Terintegrasi dengan disiplin ilmu yang lain
Meskipun PBL berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, dan ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah ditentukan secara pasti agar dalam pemecahannya siswa meninjau dari banyak mata pelajaran.
3)      Penyelidikan autentik
PBL menuntut siswa melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata terhadap masalah nyata.
4)      Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya
PBL menuntut siswa untuk menghasilkan produk yang mewakili bentuk pemecahan masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer.
5)      Kerjasama
PBL mempunyai ciri khusus yaitu siswa bekerja sama dalam kelompok kecil. Adapun keuntungan bekerja sama dalam kelompok kecil di antaranya siswa dapat saling memberikan motivasi dalam tugas-tugas kelompok dan dapat mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.


c.        Pelaksanaan PBL
Pelaksanaan model pengajaran berdasarkan masalah meliputi beberapa tahap antara lain:
1)      Orientasi siswa pada masalah
Guru menyajikan masalah dengan jelas, sehingga memungkinkan siswa untuk terlibat dalam identifikasi masalah. Masalah diajukan oleh guru merupakan masalah yang dalam penyelesaiannya memungkinkan siswa untuk melihat, merasakan dan menyentuh sesuatu yang dapat memunculkan ketertarikan dan memotivasi inkuiri. Orientasi siswa pada masalah menentukan tahap selanjutnya sehingga masalah harus menarik dan menimbulkan rasa ingin tahu.
2)      Mengorganisasi siswa untuk belajar
Siswa dikelompokkan secara bervariasi dengan memperhatikan tingkat kemampuan yang didasarkan pada tujuan yang telah ditetapkan.
3)      Membimbing penyelidikan individual dan kelompok
Siswa melakukan penyelidikan atau pemecahan masalah secara bebas dalam kelompoknya. Guru bertugas mendorong siswa untuk mengumpulkan data dan melaksanakan penyelidikan sampai mereka benar-benar memahami situasi masalahnya. Kemudian siswa mengajukan penjelasan dalam berbagai hipotesis dan pemecahan masalah yang diselidiki. Pada tahap ini guru mendorong semua ide, memerima sepenuhnya ide tersebut dan membetulkan konsep-konsep yang salah.
4)      Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Siswa dituntut untuk menghasilkan sebuah produk baik berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer.
5)      Manganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu menganalisis proses berpikir siswa, keterampilan penyelidikan dan keterampilan intelektual siswa, kemudian guru menyimpulkan materi pembelajaran.
d.       Kelebihan PBL
PBL memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan model pengajaran lainnya, di antaranya sebagai berikut:
1)        Mendorong kerjasama dalam menyelesaikan tugas
2)      Mendorong siswa melakukan pengamatan dan dialog dengan orang lain.
3)      Melibatkan siswa dalam penyelidikan pilihan sendiri. Hal ini memungkinkan siswa menjelaskan dan membangun pemahamannya sendiri mengenai fenomena tersebut.
4)      Membantu siswa menjadi pembelajar yang mandiri. Bimbingan guru kepada siswa secara berulang-ulang, mendorong dan mengarahkan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari penyelesaian masalah mereka sendiri. Dengan begitu siswa belajar menyelesaikan tugas-tugas mereka secara mandiri dalam hidupnya kelak.
e.       Kekurangan PBL
Sama halnya dengan model pengajaran yang lain, PBL juga memiliki beberapa kelemahan/hambatan dalam penerapannya (Ricard I Arends dan Ibrahim dalam Rusmiyati, 2007: 17). Kelemahan dari pelaksanaan PBL adalah sebagai berikut:
1)      Kondisi kebanyakan sekolah tidak kondusif untuk pendekatan PBL. Dalam pelaksanaannya, PBL memerlukan sarana dan prasarana yang tidak semua sekolah memilikinya. Sebagai contoh, banyak sekolah yang belum memiliki fasilitas laboratorium cukup memadai untuk kelengkapan pelaksanaan PBL.
2)      Pelaksanaan PBL memerlukan waktu yang cukup lama. Standar 40-50 menit untuk satu jam pelajaran yang banyak dijumpai di berbagai sekolah tidak mencukupi standar waktu pelaksanaan PBL yang melibatkan aktivitas siswa di luar sekolah.
3)      Model PBL tidak mencakup semua informasi atau pengetahuan dasar.
Siswa tidak dapat memperoleh pemahaman materi secara keseluruhan. Hal ini disebabkan karena standar satu jam pelajaran di sekolah yang tidak mencukupi untuk pelaksanaan PBL.
f.       Sintaks Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
Tabel 2.1 Sintaks Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
Fase
Aktivitas Guru
Aktivitas Siswa
Fase 1. Orientasi siswa terhadap masalah autentik
Guru mrnyampaikan tujuan belajar, menjelaskan logistik yang diperlukan, dan memotivasi menggunakan kemampuannya memecahkan maslah.
Siswa mendengarkan tujuan belajar yang disampaikan oleh guru dan mempersiapkan logistik yang diperlukan.
Fase 2. Mengorganisasi siswa dalam belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang diangkat.
Siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang di angkat.

Fase 3. Membantu siswa secara individual atau kelompok dalam melaksanakan penelitian
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk memperoleh jawaban yang sesuai atas masalah.
Siswa mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, dan berusaha menemukan jawaban atas masalah yang di angkat.
Fase 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya seperti laporan, video, model-model dan membantunya untuk menyampaikan kepada teman lain.
Siswa merencanakan dan menyiapkan karya, video, dan menyampaikannya pada teman lain.
Fase 5. Analisis dan evaluasi proses pemecahan masalah.
Guru membantu siswa melakukan refleksi kegiatan penyelidikannya dan proses yang telah dilakukan
Siswa melakukan refleksi kegiatan penyelidikannya dan proses yang dilakukan.

5 komentar

  1. Sarman P Sagala // 6 Juni 2013 07.20  

    terimaasih atas infonya

  2. abusahiir harits // 7 Agustus 2013 09.08  

    saling berbagi akan menambah luas wawasan kita. teruslah berbagi ilmu

  3. Anonim // 1 September 2013 19.06  

    terima kasih..

  4. Saung for Ngetik // 4 Oktober 2013 06.04  

    Ikut mempelajari ya.. terima kasih...

  5. Ticha chabi // 26 November 2013 06.18  

    keren...
    terima kasih, sama dengan buku Arend (Learning to Teach)